فَقَدۡ كَذَّبُوۡا بِالۡحَـقِّ لَـمَّا جَآءَهُمۡ‌ؕ فَسَوۡفَ يَاۡتِيۡهِمۡ اَنۢۡـبٰٓـؤُا مَا كَانُوۡا بِهٖ يَسۡتَهۡزِءُوۡنَ
Faqad kazzabuu bilhaqqi lammaa jaaa’ahum fasawfa yaatiihim ambaaa’u maa kaanuu bihii yastahzi’uun

Artinya: Sungguh, mereka telah mendustakan kebenaran (Al-Qur’an) ketika sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.

Tafsir QS. Al-An’am Ayat 5

Selain menolak tanda-tanda kekuasaan Allah, orang-orang kafir juga menutup diri, menolak, dan mengingkari kebenaran yang ada dalam Al-Qur’an. Mereka, baik yang kafir maupun munafik, telah mengingkari kebenaran Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kenabian Muhammad, kehidupan setelah mati, surga, dan neraka.

Ketika wahyu-wahyu Al-Qur’an itu sampai kepada mereka, mereka tetap tidak mau menerima. Akibatnya, di akhirat nanti, orang-orang kafir yang telah mendustakan kehidupan setelah mati ini akan menerima kenyataan yang sebenarnya—kenyataan yang selama ini mereka olok-olokkan di dunia.

Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik selalu berpaling dari ayat-ayat-Nya karena mereka telah menolak kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka. Keingkaran mereka ini terjadi karena mereka menutup diri dari mendapatkan ilmu yang benar.

Yang dimaksud dengan “kebenaran” di sini adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yang berisi petunjuk tentang cara hidup, hukum, ibadah, aturan tentang halal dan haram, akhlak, dan banyak hal lainnya, yang semuanya dijelaskan dalam Al-Qur’an. Jika mereka mau memahami dan merenungkan Al-Qur’an, tentu mereka tidak akan mendustakan ajaran agama yang terkandung di dalamnya.

Allah menegaskan bahwa kelak kebenaran yang mereka ejek dan ingkari di dunia ini akan terbukti. Di dunia, mereka akan merasakan kehinaan, dan di akhirat mereka akan menerima akibat dari kebohongan mereka. Sebaliknya, mereka akan melihat kemenangan yang diraih oleh kaum Muslimin.

Peringatan yang sebelumnya mereka anggap remeh, akan terbukti benar. Misalnya, datangnya musim kekeringan yang menimpa mereka, kekalahan kaum musyrik dalam Perang Badar dan peperangan lainnya, serta kemenangan kaum Muslimin dengan pembebasan kota Makkah (Fath Makkah).

Al-Qur’an berkali-kali menceritakan bagaimana kaum musyrik mengejek para nabi dan ajaran agama Allah. Ada tiga tingkat ejekan yang mereka lakukan. Pertama, mereka tidak peduli dengan ayat-ayat Allah dan tanda-tanda alam, serta tidak mau merenungkannya. Kedua, mereka mengingkarinya.

Ini lebih berat dari sekadar tidak peduli, karena orang yang tidak peduli belum tentu mengingkari. Ketiga, mereka memperolokkannya. Ini adalah tingkat yang paling parah, karena orang yang mengingkari belum tentu sampai pada tahap memperolok-olok. Orang-orang kafir menjalani ketiga tingkatan ini.

Author

SEO Specialist - Started learning SEO in 2018 and delved deeper into it in 2020. Currently, I'm a full-time blogger, building and developing several personal websites.

Write A Comment