قُلْ لَّا يَسۡتَوِى الۡخَبِيۡثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوۡ اَعۡجَبَكَ كَثۡرَةُ الۡخَبِيۡثِ‌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰۤاُولِى الۡاَ لۡبَابِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Qul laa yastawil khabiisu wattaiyibu wa law a’jabaka kasratul khabiis; fattaqul laaha yaaa ulil albaabi la’allakum tuflihuun

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.”

Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 100

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menjelaskan perbedaan antara perbuatan dan orang yang akan menerima pahala atau siksa dari-Nya. Allah menegaskan bahwa kebajikan dan amal saleh jelas berbeda dengan kejahatan dan kekejian.

Begitu juga, harta yang diperoleh dengan cara halal tidak bisa disamakan dengan harta yang diperoleh secara tidak sah. Barang yang bermanfaat jauh lebih baik daripada yang membawa mudarat.

Orang yang adil tidak sama dengan orang yang zalim, dan orang yang taat tidak setara dengan orang yang durhaka. Setiap orang akan menerima balasan sesuai dengan sifat dan perbuatannya.

Allah kemudian mengingatkan hamba-Nya untuk tidak terpedaya oleh banyaknya perbuatan buruk atau barang haram di sekitar mereka. Perbuatan jahat seringkali disukai oleh orang yang lemah imannya, apalagi di kota-kota besar di mana berbagai usaha dan fasilitas yang mendukung kemaksiatan bisa ditemukan dengan mudah.

Begitu juga dengan barang haram, yang mudah didapat dengan cara-cara yang salah, seperti riba, judi, suap, atau pencurian. Namun, orang-orang yang kuat imannya tidak akan tergoda oleh semua itu. Meskipun banyak orang di sekitar mereka terlibat dalam kemaksiatan, mereka tetap berpegang pada ajaran agama dan tidak terpengaruh.

Jumlah orang yang melakukan perbuatan baik mungkin tidak sebanyak mereka yang terjerumus dalam kejahatan, tetapi Allah menilai kualitas, bukan kuantitas. Dia mengukur kebaikan berdasarkan sifat dan perbuatan, bukan berdasarkan jumlah orang yang melakukannya.

Di akhir ayat ini, Allah mengajak orang-orang yang berpikiran jernih dan mampu membedakan antara yang baik dan buruk, agar tidak terperdaya oleh godaan setan yang terus-menerus berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan dan kesengsaraan. Keteguhan iman di tengah godaan yang banyak akan membawa mereka pada kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Author

Write A Comment