قَالَ رَبِّ اِنِّىۡ لَاۤ اَمۡلِكُ اِلَّا نَفۡسِىۡ وَاَخِىۡ فَافۡرُقۡ بَيۡنَـنَا وَبَيۡنَ الۡـقَوۡمِ الۡفٰسِقِيۡنَ
Qoola Rabbi innii laaa amliku illaa nafsii wa akhii fafruq bainanaa wa bainal qawmil faasiqiin
Artinya: Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”
Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 25
Usaha dua orang utusan, Yosua bin Nun dan Kalaeb bin Yefune, untuk meyakinkan kaumnya agar memasuki Tanah Kanaan dan menghadapi tantangan yang ada di sana, ternyata tidak berhasil. Meskipun keduanya sudah memberikan semangat dan nasihat yang penuh keyakinan, sikap sebagian besar kaum Nabi Musa tetap tidak berubah. Mereka tetap takut dan enggan untuk berjuang.
Setelah mendengar anjuran tersebut, mereka kembali menyampaikan penolakan mereka dengan tegas kepada Nabi Musa. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah memasuki Tanah Kanaan selama kaum yang kuat, disebut sebagai kaum raksasa dan angkuh, masih berada di sana.
Mereka sangat takut dan merasa tidak mampu mengalahkan penduduk negeri itu, yang menurut mereka sangat perkasa. Mereka bahkan menegaskan bahwa jika Nabi Musa tetap ingin berjuang untuk memasuki Kanaan, biarlah Nabi Musa yang pergi bersama pertolongan Allah. Mereka menolak untuk mengikuti Nabi Musa dan lebih memilih untuk tetap tinggal dan tidak bergabung dalam usaha tersebut.
Sikap mereka ini jelas mencerminkan pandangan yang sempit dan ketakutan yang berlebihan, yang memperlihatkan kedangkalan pikiran mereka. Mereka tidak mampu melihat potensi kemenangan yang dijanjikan oleh Allah dan lebih memilih untuk menyerah begitu saja.
Sebelumnya, mereka sempat menyembah Allah dan mengikuti Nabi Musa dengan penuh keyakinan. Namun, setelah ujian dan cobaan datang, mereka dengan mudah tergoda untuk kembali mengikuti ajaran yang salah.
Mereka bahkan ikut serta dalam penyembahan anak sapi setelah dipengaruhi oleh Samiri, menunjukkan betapa mudahnya mereka berbalik dari kebenaran.
Perilaku kaum ini, yang seringkali membangkang terhadap perintah Nabi mereka, memang bukanlah hal yang baru. Dalam sejarah, mereka sering kali menentang petunjuk Allah dan bahkan ada kalanya mereka membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka.
Hal ini mencerminkan bahwa kaum ini, meskipun diberi banyak mukjizat dan petunjuk oleh Allah, masih gagal dalam menjaga keimanan mereka dan sering kali tersesat dalam jalan yang salah.
Asbabun Nuzul QS.Al-Maidah Ayat 25
Surah Al-Maidah ayat 23 diturunkan dalam konteks peristiwa yang terjadi setelah Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israil, mendekati Tanah Suci yang dijanjikan Allah. Setelah mendengar laporan dari dua utusan yang dikirim untuk memantau keadaan di sana, yang menyatakan bahwa penduduknya kuat dan perkasa, sebagian besar Bani Israil merasa takut dan enggan memasuki tanah tersebut.
Mereka bahkan menyarankan untuk kembali ke Mesir. Namun, dua orang utusan yang saleh, yaitu Yosua bin Nun dan Kalaeb bin Yefune, menganjurkan agar mereka tetap memasuki Tanah Suci dengan keyakinan bahwa dengan pertolongan Allah, mereka akan menang dan dapat mengusir penduduk yang kuat di sana.
Mereka percaya bahwa kemenangan tersebut merupakan janji Allah yang pasti akan ditepati.
Namun, seruan tersebut tidak berhasil mengubah sikap sebagian besar Bani Israil. Mereka tetap menunjukkan penolakan dan ketakutan yang mendalam. Mereka bersikeras bahwa mereka tidak akan memasuki Kanaan selama penduduk yang kuat dan angkuh di sana masih ada.
Mereka menegaskan bahwa jika Nabi Musa tetap ingin melanjutkan perjuangan untuk memasuki Tanah Kanaan, maka Nabi Musa harus melakukannya sendiri bersama pertolongan Allah. Mereka menolak untuk mengikuti, bahkan lebih memilih untuk tetap tinggal dan tidak bergabung dalam perjuangan tersebut.
Sikap ini menunjukkan betapa sempitnya pandangan mereka, serta ketidakmampuan mereka untuk percaya pada janji Allah.
Surah Al-Maidah secara umum diturunkan untuk memberikan petunjuk hukum dan moral bagi umat Islam, termasuk kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran. Ayat-ayat dalam surah ini membahas berbagai aspek kehidupan, seperti hukum makanan, perjanjian, dan kisah-kisah nabi, dengan tujuan membimbing umat Islam dalam menjalani kehidupan sesuai dengan wahyu Allah.
